Rabu, 17 Juni 2020

SENAM NIFAS DAN MANFAATNYA



Pengertian

Senam nifas merupakan senam yang dapat dilakukan oleh para perempuan setelah melahirkan yakni selama masa-masa nifas, pada persalinan normal bisa dimulai pada hari ke-3 setelah persalinan, sedangkan pada persalinan dengan operasi caesar bisa dimulai setelah luka operasi benar-benar kering, yaitu setelah 6 - 8  minggu. Pada masa kini, semakin banyak perempuan yang hendak melakukan senam nifas karena tahu akan manfaatnya dan menganggap senam nifas sebagai salah satu kebutuhan.

Tidak harus melakukan senam nifas di sanggar senam atau tempat gym tertentu. Senam nifas bisa dilakukan di rumah. Hal ini dikarenakan cara melakukan nifas tidak sulit dan bahkan tanpa memerlukan alat-alat khusus. Namun sebelum mulai melakukan senam nifas ini ada baiknya dikonsultasikan dulu dengan dokter.

Manfaat

Olahraga setelah melahirkan, seperti senam nifas, dipercaya mampu meningkatkan kesehatan fisik maupun mental ibu. Beberapa manfaat senam nifas bagi ibu yang baru menjalani proses persalinan, yaitu:

  • Membantu memulihkan kekuatan otot, terutama otot dasar panggul.
  • Menguatkan tubuh
  • Memperkuat dan mengencangkan otot perut
  • Meningkatkan energi
  • Membantu penurunan berat badan kembali seperti semula
  • Meningkatkan kebugaran
  • Meningkatkan kualitas tidur
  • Meringankan stres dan memperbaiki suasana hati
  • Mengurangi gejala stress pasca persalinan, terutama bagi ibu yang baru melahirkan anak pertama

Melakukan senam nifas menjadi salah satu olahraga yang aman, mudah dan murah yang bisa  dilakukan oleh ibu. Sebelum melakukan senam nifas ini ada beberapa tips yang bisa dilakukan, antara lain :

  1. Melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter, apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, dan pastikan bisa didampingi oleh instruktur yang terpercaya dalam melakukan senam nifas.
  2. Pastikan otot, tulang, dan tubuh Anda sudah pulih setelah melahirkan
  3. Lakukan dengan perlahan dan gerakan yang ringan pada tahap awal, dan naik secara bertahap
  4. Pilihlah gerakan senam nifas yang tepat
  5. Jika Anda ingin melakukan senam nifas di sanggar, maka beri tahukan instruktur,bahwa anda baru melahirkan berapa hari
  6. Gunakan bra dan pakaian senam yang tepat dan nyaman
  7. Pastikan Anda mengonsumsi makanan sehat dan bergizi
  8. Hentikan senam nifas ketika ada bagian tubuh yang terasa sakit, nyeri, atau ketidakyamanan lainnya
  9. Siapkan air minum yang cukup agar tidak terjadi dehidrasi
  10. Segeralah mengunjungi dokter atau rumah sakit bila mengalami pendarahan atau otot terkilir

Contoh gerakan senam nifas

Gerakan-gerakan senam nifas umumnya mudah dilakukan dan dipraktikkan sendiri di rumah. Bila  tertarik melakukan senam ini, berikut beberapa gerakan yang bisa dipraktekkan :

  • Kegel

Gerakan senam Kegel dapat membantu merilekskan otot-otot panggul dan perut. Dalam melakukan gerakan ini, bisa dalam posisi berbaring, duduk ataupun berdiri. caranya adalah

  1. Rilekskan otot-otot perineum dan otot-otot dasar panggul
  2. Mulai dengan 2-3 detik per kontraksi, dengan kontraksi seperti sedang menahan kencing lalu bergerak hingga 5-10 detik
  3. Akhiri dengan menahan kontraksi  selama 20 detik
  4. Mulailah dengan 2-3 kontraksi per sesi dan membangun hingga menahan 5 kontraksi. Lakukan  beberapa kali per hari.
  5. Jangan berkecil hati jika ini sulit dilakukan pada awalnya. Karena semua akan menjadi lebih mudah dengan latihan yang teratur.
  • Squat

Gerakan squat melibatkan otot-otot besar di tubuh  untuk meningkatkan kekuatan tubuh. Dalam melakukan gerakan ini,  hanya perlu berdiri tegak dengan kaki sedikit terbuka lebar.

Lalu, tekuk lutut sembari dorong pinggul dan pantat ke belakang seolah akan duduk. Turun hingga paha berada dalam posisi lurus, kemudian kembali berdiri dalam posisi tegak. Ulangilah gerakan ini sebanyak 15 kali.

  • Pelvic tilt

Gerakan senam nifas yang satu ini dapat menguatkan otot perut dan meregangkan otot bawah punggung. Dalam melakukan gerakan ini, posisinya adalah dengan berbaring di lantai dengan lutut yang ditekuk, namun telapak kaki menempel ke lantai.

Kemudian, kencangkan perut sembari mengangkat sedikit panggul. Tahan hingga 10 detik, dan turunkan secara perlahan. Ulangi gerakan ini kurang lebih sebanyak 5-10 kali naik turun untuk membuat otot semakin kuat.

  • Bridge

Gerakan senam ini dapat memperkuat otot perut dan mengencangkan otot panggul. Dalam melakukan gerakan bridge, Anda perlu berbaring dengan tulang belakang menyentuh lantai. Lalu, tekuk lutut dengan telapak kaki yang menempel ke lantai. Posisikan lengan di samping tubuh dengan telapak tangan menelungkup.

Tarik napas dan doronglah pinggul dan pantat ke atas sehingga tubuh hanya menumpu pada atas punggung dan bahu. Tahan gerakan ini selama 2 detik. Lalu, turunkan pinggul sembari menghembuskan napas. Ulangilah sebanyak 10-15 kali yang terbagi ke dalam 2-3 set dan beri jeda istirahat antar set tersebut.

  • Clamshell

Gerakan senam yang satu ini dianggap mampu memperkuat pinggul, serta meredakan ketegangan punggung bagian bawah. Dalam melakukan gerakan ini, Anda hanya perlu berbaring miring dengan kaki ditumpuk dan lutut ditekuk. Pastikan tulang belakang dan punggung berada dalam kondisi rileks.

Selanjutnya, tumpu kepala dengan satu tangan  sementara tangan yang lain bertolak pinggang. Lalu, angkatlah lutut dan kaki bagian atas sehingga pinggul juga terdorong. Tahan hingga beberapa detik, dan kembali pada posisi awal. Lakukanlah sebanyak 20 hitungan pada setiap sisi.

Sebelum berolahraga, sebaiknya  berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter untuk memastikan kondisi  baik-baik saja. Umumnya, ibu direkomendasikan untuk berolahraga selama 150 menit dalam seminggu. Sebelum memulai senam nifas ini sebaiknya melakukan pemanasan, dan pendinginan  sesudah melakukan senam. Pemanasan dan pendinginan yang bisa dilakukan adalah dengan latihan peregangan yang disertai dengan latihan bernapas dalam. Cara melakukan peregangan misalnya adalah dengan menangkupkan jari-jari kedua tangan, tarik lurus sejauh mungkin ke depan, lalu tahan 10 hitungan, kemudian ganti tarik lurus ke belakang, ke atas, ke kanan dan ke kiri secara bergantian dengan tahanan yang sama yaitu 10 hitungan. Setiap ganti gerakan selingi dengan bernapas dalam.

Meski senam nifas baik untuk dilakukan, tidak disarankan untuk melakukannya secara berlebihan. Ingat, selama beberapa bulan pertama usia melahirkan, tubuh masih butuh waktu untuk pemulihan.. Lakukan senam nifas jika tubuh sudah mampu dan pulih setelah bersalin.

Semoga bermanfaat dan salam inspiratif




PENANGANAN FISIOTERAPI PADA ERB'S PARALYSE


Pengertian

Erb's paralyse merupakan suatu bentuk cedera yang mengenai plexus Brachialis. Dimana plexus Brachialis sendiri merupakan sekumpulan saraf yang keluar dari tulang belakang yang menyarafi daerah lengan atas sampai ke tangan. Akar saraf plexus Brachialis keluar dari segmen cervical ( C5,C6,C7 ) dan thoracal ( Th1 dan Th2 ). Cedera ini pertama kali dilaporkan oleh seorang dokter saraf dari Perancis Willhem Erb, yang menemukan kasus kelumpuhan lengan atas dari bayi pasca persalinan, yang kemudian disempurnakan seorang dokter dari Inggris Duchenne yang menyebutkan kelumpuhan itu berasal dari gangguan/cedera saraf plexus Brachialis bagian atas yaitu mulai dari C5 dan C6 kadang sampai C7, sehingga cedera ini sering juga disebut Erb Duchenne's paralyse. Sedangkan untuk gangguan saraf yang berasal dari plexus Brachialis bagian bawah sering kali disebut sebagai Klumpke's paralyse. 

Secara neurologis, titik Erb adalah sebuah lokasi dari plexus Brachialis yang terletak 2-3 cm di atas clavicula, yang terbentuk dari bersatunya akar saraf  C5 dan C6 . Setelah itu akan keluar saraf-saraf yang akan menuju ke lengan. Saraf yang terkena di Erb's paralyse adalah saraf axillaris, musculocutaneus dan sub scapularis

  • Saraf axillaris - berasal dari cabang terminal dari serat penerima tali posterior dari C5 dan C6. Itu keluar dari fossa axillaris posterior melewati ruang segi empat dengan arteri humerus sirkumfleks posterior. itu tumbuh ke saraf cutaneus brakialis superior kemudian melewati daerah antara humerus hingga deltoideus. Saraf ini mempersarafi sendi bahu, otot kecil dan otot deltoideus, kulit lengan superolateral.
  • Saraf musculocutaneus - berasal dari cabang terminal dari serabut penerima korda lateral dari C5-C7. Ia keluar dari axilla dengan melewati coracobrachialis, turun antara biceps brachii dan brachialis sambil menginervasi keduanya, berlanjut sebagai saraf cutaneus lengan bawah. Ini menginervasi otot-otot kompartemen anterior lengan dan kulit aspek lateral lengan bawah.
  • Saraf subscapularis - berasal dari serat penerima trunkus superior dari C5, C6 sering C4. Ini melewati lateral di daerah serviks lateral superior ke plexus brachialis kemudian melalui takik scapular lebih rendah daripada ligamentum scapula transversal superior. Ini menginervasi otot supraspinatus, infraspinatus dan sendi bahu.
Cedera ini sering terjadi pada proses persalinan  bayi. Ini terjadi ketika ada cedera pada plexus brachialis, ketika proses persalinan berlangsung . Cedera dapat meregangkan, memecah, atau membuat avulsi/tercabutnya akar plexus dari sumsum tulang belakang. Kejadian neuropraksia terkait kelahiran adalah yang paling umum terjadi(sekitar 48%). Di Amerika Serikat kejadian erb's paralyse karena proses persalinan ini dilaporkan 1 - 2 kasus per 1000 kelahiran. Sedangkan di Indonesia belum ada laporan resmi jumlah kejadian seperti ini.

Penyebab

Penyebab paling umum dari Erb's paralyse adalah tarikan/traksi lateral yang berlebihan atau peregangan kepala dan leher bayi dalam arah yang berlawanan selama persalinan yang biasanya dikaitkan dengan distosia bahu. Ini mungkin terjadi selama proses penarikan kepala, kepala mungkin menyimpang jauh dari bidang aksial. Bisa juga ada kompresi plexus brachialis yang menyebabkannya meregang dan sobek. Kadang-kadang, menarik bahu bayi selama persalinan atau tekanan berlebihan pada lengan bayi yang terangkat selama persalinan sungsang dapat menyebabkan cedera plexus brachialis. Dua kekuatan potensial bertindak pada plexus brachialis selama kekuatan ekspulsif alami persalinan, gaya traksi yang diterapkan oleh penolong persalinan.

Faktor risiko

  • Distosia bahu
  • Makrosomia janin
  • Obesitas ibu 
  • Diabetes gestasional
  • Durasi persalinan tahap kedua (lebih dari 60 menit)
  • Presentasi sungsang
Gejala

Tanda klasik erb's palsy disebut Waiter's tip deformity . Ini disebabkan oleh hilangnya rotator lateral bahu, fleksor lengan, dan otot ekstensor tangan. Posisi anggota badan, dalam kondisi seperti itu, ditandai oleh: lengan digantung di samping dan diputar secara medial, lengan bawah direntangkan dan dipratonkan dan pergelangan tangan dilenturkan. Juga, ada kehilangan sensasi pada aspek lateral lengan bawah.

Lengan tidak bisa diangkat dari samping; semua kekuatan fleksi siku hilang, seperti juga supinasi lengan bawah. Otot-otot yang paling sering lumpuh adalah supraspinatus dan infraspinatus karena saraf suprascapularis dipasang pada takikan suprascapular (titik Erb). Pada pasien yang lebih parah terkena otot deltoideus, biceps  brachii, brachialis, dan subscapularis terpengaruh (C5 dan C6). Fleksi siku melemah karena kelemahan pada biseps & brachialis. Jika akar rusak di atas persimpangan mereka, kelumpuhan rhomboids dan serratus anterior bisa juga terjadi, menghasilkan kelemahan dalam retraksi dan perpanjangan scapula. Selain kelemahan dari anggota gerak, juga akan dijumpai adanya gangguan sensibilitas pada daerah yang disarafinya.

Jenis cedera erb's paralyse

Secara umum cedera erb's paralyse ini dibagi dalam :

  1. Neurapraxia,  adalah yang paling mudah untuk ditangani dan yang paling umum. Itu terjadi ketika saraf meregang terlalu panjang. Kondisi ini akan mengirim rasa sakit yang membakar melalui area yang terkena, sehingga anak mungkin mengalami ketidaknyamanan yang ekstrem selama waktu ini. Jarang dijumpai gangguan motorik. Saraf dapat sembuh sendiri dalam waktu sekitar tiga bulan. Ini berarti anak kemungkinan akan memiliki jangkauan gerak penuh dan berkembang secara normal.
  2. Axonotmesis,adalah terjadinya disrupsi axon dan myelin. Jaringan ikat lunak sekitarnya termasuk endoneurium masih intak. Terjadi degenerasi axon distal dan proksimal lokasi terjadinya trauma. Degenerasi distal dikenal sebagai degenerasi Wallerian. Axon akan mengalami regenerasi dengan kecepatan 1 mm/ hari. Secara bermakna fungsi akan kembali normal setelah 18 bulan.
  3. Neurotmesis, adalah keadaan dimana akson dan pembungkus saraf perifer putus, sobek atau rusak. Degenerasi Wallerian terjadi pada bagian distal namun, segmen proksimal tidak mengalami regenerasi secara alamiah Karena pembungkus akson ikut terputus. Serabut fibril saraf dengan elemen -elemen jaringan fibrus membentuk neuroma. Pemulihan hanya dapat diharapkan bila dilakukan repair saraf secara pembedahan mikro.
  4. Avulsi,Avulsi adalah jenis terburuk erb's paralyse. Dalam hal ini, saraf tercabut sepenuhnya dari sumsum tulang belakang. Pemasangan kembali akar saraf yang tercabut bukanlah suatu opsi, karena sangat tidak mungkin untuk dilakukan. Ini dapat menyebabkan lengan menjadi tidak bergerak sama sekali. Namun, beberapa pasien dengan avulsi dapat bergerak kembali setelah dilakukan operasi okulasi.
Penanganan

Pada cedera erb's paralyse tipe neuropraxia dan axonotmesis, sesaat setelah kejadian bisa diberikan bidai/pemasangan immobilisasi, dimana lengan yang mengalami kelumpuhan dirapatkan dengan tubuh dan diberikan immobilisasi selama 1 - 2 minggu. Sedangkan pada cedera neurotmesis dan Avulsi mutlak diperlukan pembedahan. Pada cedera neuropraxia dan axonotmesis setelah 2 minggu mulai bisa diberikan program fisioterapi berupa latihan pada anggota gerak yang sarafnya mengalami cedera. Misalnya dengan feksi ekstensi siku, fleksi ekstensi pergelangan tangan dan jari-jari, pronasi supinasi lengan bawah. Setelah 2 - 4 minggu baru bisa mulai diberikan latihan pada bahu, sesuai kondisi yang ada.

Manajemen Fisioterapi

Selama 6 bulan pertama pengobatan diarahkan khusus untuk pencegahan cacat tetap. Terapi latihan harus diberikan setiap hari untuk mempertahankan Lingkup gerak sendi ( LGS ) dan meningkatkan kekuatan otot. Orang tua harus diajari untuk berperan aktif dalam menjaga LGS dan menjaga agar otot-otot yang berfungsi tetap fit. Latihan harus mencakup kegiatan motorik kedua lengan secara sinergis, dan sama

  • Kegiatan dan latihan untuk mempromosikan pemulihan gerakan dan kekuatan otot
  • Latihan untuk mempertahankan rentang gerakan pada sendi untuk mencegah kekakuan dan rasa sakit
  • Stimulasi sensorik untuk meningkatkan kesadaran lengan
  • Pemberian bidai untuk mencegah komplikasi sekunder dan memaksimalkan fungsi
  • Mendidik orang tua tentang penanganan yang tepat dan posisi anak dan latihan di rumah untuk memaksimalkan potensi anak untuk pemulihan
  • Terapi gerakan yang diinduksi kendala mungkin berguna
  • Heating/pemanasan yang dikombinasikan dengan stimulasi listrik dirasakan memberi manfaat pada stimulasi gerakan dan sensasi rasa yang bisa ditolerir oleh penderita.
Semoga bermanfaat
Salam Inspirasi