Rabu, 10 Januari 2024

PENANGANAN FISIOTERAPI PADA LESI NERVUS RADIALIS

 PENANGANAN FISIOTERAPI PADA LESI NERVUS RADIALIS

 

 

 PENGERTIAN LESI NERVUS RADIALIS

Lesi nervus radialis atau dalam bAhasa medis yang lain sering disebut sebagai neuropati radialis adalah suatu kelainan fungsional dan struktural pada nervus radialis. Kelainan ini dipastikan dengan adanya bukti klinis, elektrografis atau morfologis yang menunjukkan terkenanya saraf tersebut atau jaringan penunjangnya.

Cedera di bagian saraf radial akibat trauma fisik, infeksi, atau bahkan paparan racun sering menjadi penyebabnya. Kondisi ini dapat menyebabkan kelemahan dan kesulitan menggerakkan pergelangan tangan atau jari, terutama pada daerah yang disarafi oleh Nervus Radialis dengan manifestasi yang berbeda tergantung penyebabnya.

PENYEBAB LESI NERVUS RADIALIS

Neuropati radialis dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang terjadi sendiri-sendiri atau secara bersamaan (multiple factors). Misalnya, penyebab diabetes melitus yang pada mulanya subklinis akan menjadi simptomatis sesudah adanya suatu trauma atau kompresi yang mengenai saraf. Penyebab lainnya meliputi:

1.  Trauma/benturan, pada fraktur dan dislokasi, neuropati terjadi karena penekanan saraf oleh fragmen tulang, hematoma, kalus yang terbentuk sesudah fraktur, atau karena peregangan saraf akibat suatu dislokasi. 

2. Infeksi.  Dapat terjadi karena: sifilis, herpes zoster, lepra dan TBC. Bisa mengenai saraf atau banyak saraf.
3. Toksik.  Lebih spesifik mengenai nervus radialis adalah pada lead intoxication, gigitan ular, serangga atau binatang lain yang berbisa.

4. Penyakit vaskuler.
5. Neoplasma/ kanker.

 GEJALA LESI NERVUS RADIALIS

Lesi nervus  radialis biasanya menyebabkan gejala di punggung tangan, di dekat ibu jari, dan di jari telunjuk dan tengah. Gejala-gejalanya bisa berupa:
1. Sensasi abnormal pada tangan atau lengan bawah (belakang tangan), sisi jempol (permukaan radial) tangan, atau jari terdekat dengan jempol (jari kedua dan ketiga).
2. Kesulitan meluruskan lengan pada siku.
3. Kesulitan menekuk tangan belakang pergelangan tangan, atau memegang tangan.
4. Mati rasa, sensasi yang berkurang, kesemutan, atau sensasi terbakar.
5. Nyeri.


 

DIAGNOSA LESI NERVUS RADIALIS

 Untuk mendiagnosa  dokter dapat melakukan anamnesa dan pemeriksaan pada tangan pengidap yang mengalami keluhan. Selain itu dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan tambahan untuk membantu dalam memastikan diagnosa, seperti :

1. Pemeriksaan laboratorium. Dokter dapat merekomendasikan tes untuk menyingkirkan penyebab lain dari gejala yang kamu alami. Misalnya, kamu mungkin perlu menjalani tes darah untuk memeriksa kadar gula darah, fungsi ginjal dan tiroid. Tes ini memeriksa tanda-tanda kondisi lain yang terkait dengan kerusakan saraf, seperti diabetes, kekurangan vitamin, atau penyakit ginjal dan hati.
2. Tes pencitraan. Sinar-X, ultrasound, dan MRI dapat membantu menemukan dan menilai tingkat keparahan kerusakan saraf.
3. Pemeriksaan EMG (Elektromiografi). Lesi/Neuropati radialis dapat memperlambat atau menghentikan transmisi sinyal listrik dalam tubuh. Mengukur kecepatan dan derajat sinyal ini di saraf dapat membantu diagnosis.

4. Pemeriksaan Fisik, berupa pasien disuruh untuk melakukan gerakan gerakan tertentu seperti, menggenggam, nenggerakkan ibu jari,menggerakkan pergelangan tangan dll

 

PENANGANAN LESI NERVUS RADIALIS

Tujuan utama pengobatan adalah untuk membuat pengidapnya bisa menggerakkan tangan dan lengan dengan leluasa. Dokter atau Fisioterapis harus menemukan penyebabnya terlebih dahulu agar bisa mengobatinya. Dalam sejumlah kasus, neuropati radialis bisa pulih secara perlahan tanpa perlu melakukan perawatan khusus. 

Pada pengidap neuropati radialis akibat fraktur atau dislokasi, perbaikan bisa terjadi spontan. Sementara pengidap dengan saturday night palsy biasanya akan membaik dalam 6-8 minggu atau kadang-kadang lebih lama. Timbulnya callus pada pasien pasca fraktur humeri/radius proksimal sering kali menekan Nervus Radialis yang melintas dibawahnya, sehingga proses penyembuhannya akan sangat tergantung dengan penekanan yang terjadi.Perawatan konservatif yang bisa dilakukan termasuk:

  • Belat pergelangan tangan, atau penyangga untuk mendukung dan menstabilkan pergelangan tangan serta mempertahankan fungsi.
  • Konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid, seperti aspirin atau ibuprofen untuk mengatasi nyeri.
  • Fisioterapi untuk membantu memulihkan gerakan melalui latihan.
  • Suntikan anestesi lokal di dekat saraf untuk mengurangi rasa sakit.

Pembedahan dilakukan apabila terdapat sindrom terowongan radial, tumor dan robekan yang perlu direkonstruksi. Perbaikan ini mungkin melibatkan cangkok saraf, di mana saraf baru ditambahkan ke saraf yang rusak. Ini juga bisa melibatkan transfer saraf, di mana saraf lain dialihkan ke saraf yang terluka.

KOMPLIKASI

Jika saraf tidak sembuh sepenuhnya, komplikasi yang bisa terjadi adalah mati rasa atau kelumpuhan secara permanen. Untuk itu, penting untuk segera mengobati lesi Nervus Radialis

PENCEGAHAN LESI NERVUS RADIALIS

Salah satu langkah pencegahan utamanya adalah menghindari tekanan yang berkepanjangan pada lengan atas. Hindari perilaku yang dapat menyebabkan kerusakan saraf, seperti gerakan berulang atau tetap dalam posisi sempit saat duduk atau tidur. Gunakan pelindung pada saat melakukan aktivitas aktivitas yang ekstrem atau berbahaya, terutama bagi lengan atas.

Jika kamu melakukan pekerjaan yang membutuhkan gerakan berulang, jangan lupa beristirahat dan beralih di antara tugas-tugas yang membutuhkan gerakan berbeda. Beberapa gaya hidup di bawah ini mungkin dapat membantu mencegah dan mengatasi neuropati/lesi nervus radialis:


1. Makan makanan sehat. Konsumsi berbagai jenis vitamin yang dapat membantu memulihkan saraf.
2. Hindari mengonsumsi alkohol. Alkohol dapat mengakibatkan kerusakan dan meracuni saraf.
3. Pertimbangkan rangsangan saraf pada otot dalam pemeriksaan pada kulit.
4. Ikuti instruksi dokter dan Fisioterapis. 

PENANGANAN FISIOTERAPI

Pemberian priogram fisioterapi pada dasarnya tergantung berat dan ringannya lesi/kerusakan yang ditimbulkan. Beberapa program fisioterapi yang sering diberikan :

1. Sinar infra merah, diberikan untuk memberikan efek rileksasi pada otot dan jaringan yang terkena, namun harus dipertimbangkan adanya kelemahan/penurunan sensasi rasa yang ditimbulkan penyakit ini.

2. Pemberian stimulasi listrik untuk merangsang kontraksi otot yang mengalami kelemahan.

3. Terapi latihan untuk mencegah adanya kontraktur dan melatih gerakan otot yang mengalami kelemahan.
 

 
 

MENCEGAH PENULARAN BATUK DENGAN ETIKA BATUK

MENCEGAH PENULARAN BATUK DENGAN ETIKA BATUK

 


 

 

 

 

 Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia, termasuk di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kondisi lingkungan dan budaya yang ada di negara  ini sangat mempengaruhi  tingginya  kejadian infeksi.

 Dalam kehidupan sehari-hari tanpa sadar reflek batuk sering terjadi, hal ini sangatlah normal. Tetapi efeknya menjadi tidak normal apabila Anda tidak menyadari atau mengetahui akibat yang ditimbulkan dari batuk yang dapat mengeluarkan spora dari mulut. Penting untuk Anda mengetahui etika batuk yang harus Anda patuhi setiap kali batuk.

 

 

Etika batuk yang benar menurut sisi kesehatan

Etika batuk perlu untuk diketahui, karena dari hal ini Anda telah bertindak dalam proses pencegahan infeksi. Mungkin saat batuk, Anda akan menutup mulut dengan telapak tangan.

Tujuan Anda mungkin baik, namun belum tentu benar dan justru cara ini akan menjadi media penyebaran infeksi yang cepat. Dengan menutup telapak tangan, tanpa sadar Anda telah memindahkan bakteri dari telapak tangan Anda ke orang lain melalui bersentuhan atau bersalaman.

Batuk sendiri merupakan salah satu gejala atau tanda yang sering dialami setiap orang. Baik karena adanya iritan seperti asap, debu, maupun benda asing di saluran napas, atau gejala dari suatu penyakit seperti influenza, bronkitis, TBC dan beberapa penyakit lain.

Menariknya dari sisi kesehatan, batuk memiliki etiket tanpa memandang apakah batuk tersebut disebabkan oleh gejala dari suatu penyakit menular atau hanya merupakan refleks pertahanan tubuh akibat adanya benda asing atau iritan. Berikut adalah etiket batuk yang baik dan benar :

  • Jika Anda ingin batuk, segeralah ambil tisu untuk menutupi tidak hanya mulut Anda tetapi juga hidung Anda.
  • Langsung buang tisu setelah digunakan menutup mulut dan hidung yang Anda gunakan saat batuk ke dalam tempat sampah.
  • Karena batuk merupakan refleks yang tidak dapat dikontrol, ada kalanya Anda tidak dalam kondisi memegang atau membawa tisu. Batuklah pada bagian lengan atas Anda. Jangan pada telapak tangan Anda. Mengapa? Bagian lengan atas merupakan bagian yang jarang melakukan kontak baik dengan benda (seperti gagang pintu, alat makan, atau telepon) maupun orang lain seperti saat jabat tangan.
  • Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir.
  • Jika sabun dan air tidak tersedia, kita dapat menggunakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol dengan konsentrasi alkohol setidaknya 60%. 

    Mengapa batuk harus pakai etiket?

    Etika batuk hanya memiliki satu tujuan, yaitu untuk mengendalikan penyebaran infeksi yang terjadi saat batuk. Tidak hanya di fasilitas kesehatan, tetapi juga dikantor, sekolah, pusat keramaian maupun rumah Anda.

    Batuk yang disebabkan adanya iritan mungkin tidak mengandung kuman berbahaya. Namun, kuman atau flora normal yang ada di dalam rongga mulut yang dikeluarkan saat batuk, besar kemungkinan akan membentuk koloni yang dapat memicu infeksi.

    Terakhir, gunakan masker jika Anda batuk atau berada didekat orang batuk. Cobalah untuk menjauhkan diri dari orang lain saat Anda batuk sehingga Anda tidak menyebarkan kuman. Jika batuk terkait gejala penyakit, ada baiknya Anda beristirahat di rumah dan menghindari tempat ramai seperti kantor dan sekolah bila memungkinkan.

    Jadi, tutupi batuk Anda untuk mencegah penularan kuman yang dapat memicu penyakit bagi Anda dan orang sekitar Anda. Aturan ini juga berlaku saat Anda bersin.

     

    ( diambil dari berbagai sumber )